Teori Episentrum Kota dalam Menata Manajemen Ekonomi Daerah

Posted: Juni 12, 2009 in Perencanaan Wilayah
Tag:, , , , ,

Berbicara penataan kota kita sering dihadapkan dengan kultur dan                struktur masyarakat yang harus kita benahi, berkaitan dengan hal tersebut perlu upaya yang serius dan dengan menggunakan formula

yang tepat agar upaya perluasan wilayah perkotaan tidak menimbulkan efek negative baik secara cultural maupun struktur masyarakat yang ada. Pentaan kota ini penting dalam rangka meningkatkan simpul 2 ekonomi daerah agar dapat berkembang, karena dengan system ekonomi Kapitalisme sekarang ini produk local daerah sering dikalahkan oleh produk nasional Karena banyak factor. Salah satu factor yang menyebabkan produk local daerah semakin kalah dengan produk nasional adalah dengan semakin menjamurnya retail – retail di daerah seperti alfamart, indomart, Giant, Carefour.

Hal ini perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah agar ekonomi kerakyatan sebagai simbol dari otonomi daerah tidak mati. Salah satu upayanya adalah dengan membuat simpul simpul ekonomi di beberapa titik daerah sehingga dengan adanya simpul ekonomi tersebut akan berkembang dan saling bersinggungan dengan simpul ekonomi di titik yang lain sehingga terjadi perluasan wilayah kota yang ada. Akan tetapi perluasan ini tidak serta merta mengandung resiko yang tinggi karena perlu ketegasan dan will dari pimpinan daerah untuk mau mewujudkan wilayahnya menjadi suatu wilayah perkotaan..walupun sebagian orang mengatakan dengan semakin meluasnya wilayah perkotaan tidak ekuivalen dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya..akan tetapi setidaknya dengan adanya perluasan wilayah perkotaan terjadi peningkatan aktivitas masyarakat sehingga terjadi transaksi dan interaksi bisnis antar individu yang memacu peningkatan kesejahteraan secara individu maupun kolektif. Pembuatan simpul – simpul ekonomi di beberapa titik di daerah inilah yang saya sebut dengan pengembangan kota secara episentrum karena intinya terjadi perluasan wilayah di satu tititk yang saling bersinggungan di titik yang lain sehingga daerah – daerah sekitar titik ekonomi tersebut berkembang menjadi wilayah perkotaan. Secara lebih jelas dapat dilihat dalam peta berikut :

Pertanyaan yang muncul ketika kita coba mengembangkan teori ini adalah siapa yang akan mengisi simpul – simpul ekonomi tersebut, apakah yang mengisi adalah sektor perdagangan tradisional ataukah jenis perdagangan yang modern karena sarana yang paling tepat untuk membuat sebuah simpul ekonomi adalah dengan membuat suatu wilayah pasar di titik tersebut. Pasar sendiri secara pengertian ekonommi adalah tempat pertemuan antara permintaan dan penawaran jadi sebenarnya konsep pasar adalah transaksi sehingga interaksi bisnis yang terjadi sangat jelas. Konsep perdagangan tradisional versus modern perbedaannya saya kira hanya terletak pada aspek sarana dan prasarana serta fasilitas barang yang dijual, walaupun sebenarnya apabila kita ingin meningkatkan sector ekonomi kerakyatan bentuk yang paling tepat adalah bentuk pasar tradisional bukan pasar modern. Akan tetapi disini saya coba memberikan sebuah pandangan mengenai bentuk isian dari simpul ekonomi tersebut terlepas dari bentuk perdagangan tradisional maupun modern dengan menyoroti pada aspek ekonomi karakteristik . jadi isian simpul tersebut harus bersifat khusus untuk perdagangan tertentu sehingga terjadi sebuah trade mark atau ciri khas di wilayah tersebut.

Berbicara Purwakarta dengan luasan sekitar 756894 km2 dengan pusat kota adalah di kecamatan Purwakarta yang menurut saya masih perlu dilakukan penataan, karena karakteristik perkotaan di Jawa Barat pada umumnya dan Purwakarta pada khususnya masih bersifat linear ( garis Lurus ) bukan berisfat lingkaran. Jadi kalo untuk tataran purwakarta hanya dari Kopo – pasar Rebbbo. Hal ini perlu mendapat penataan kembali karena wilayah pasar jumat dan pasar rebo sudah sangat jenuh dan sangat sulit untuk melakukan suatu ekspansi wilayah. Wilayah yang paling tepat untuk dibuat suatu titik simpul adalah sekitar Daerah Munjul jaya – Citalang dan sekitarnya karena apabila kita kembangkan ke daerah barat terbentur dengan sungai Cikao. Pembuatan simpul di wilayah citalang ini perlu diberikan sentuhan kekhasan sehingga seperti yang saya sampaikan tadi bisa memberikan cirri khas bagi daerah tersebut seperti halnya Palasar bandung terkenal dengan dg tempat jualan bukunya.

Demikian aspek perencanaan wilayah dilihat dari sudut pandang pengembangan wilayah ekonomi, karena unsure ekonomi ini aadalh penting bahkan sebagian orang untuk saat ini mengatakan bahwa ekonomi ini adalah juru bicara dari sector – sector yang lain… Jepang, Singapura, Taiwan, China, India, apabila kita membicarakan Negara – Negara tersebut yang pertama kali kita kenal adalah sebagai suatu Negara yang memiliki pondasi ekonomi yang bagus baru berbicara kepada aspek yang lainnya, demikian pula halnya jika dikaitkan dengan sector keluarga. Jadi istilahnya ekonomi itu adalah anak panah dari sector politik, sosbud, dan hankam. Dengan adanya kedudukan yang sangat vital ini maka perlu upaya untuk membuat sentuhan yang inovatif dalam rangka peningkatan serta penguatan struktur pondasai negara, keluarga dan pribadi ditengah krisis global yang sedang berlangsung.

Komentar
  1. desty pratiwi mengatakan:

    izin pak ……
    di wilayah saya kec. sungai raya kab. kubu raya terdapat pasar tradisional, dulu pasar tradisional ini sangat ramai di kunjungi,,,, karena tersedia semua kebutuhan masyarakat dari kebutuhan pokok(primer) hingga sekunder,,, keramaian tersebut dikarenakan mayoritas penduduk(konsumen) bekerja di perusahaan kayu yang bsar di kab. kubu raya sehingga taraf ekonomi mereka lumayan tinggi, tapi akibat tutup ny perusahaan2 tersebut membuat karyawan di PHK, dan menurunnya taraf ekonomi, sehingga berdampak pada pendapatan di pasar tradisional tersebut khususnya penjual2 makanan atau kue …… walaupun seperti itu semakin banyak penjual makanan/kue yang bertambah di pasar teersebut karena warga yang di PHK sekarang melakuakn usaha itu sebagai pendapatan baru mereka….. walaupun mereka tahu persaingan menjadi ketat dan peluang terjualnya sedikit…..
    jadi menurut bapak bagaimana menanggapi hal tersebut????
    apakah ini bisa di kaitkan dalam teori ini untuk menata manajeman ekonomi daerah????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s